[K.O.K] – Di sudut Jakarta Utara, tepatnya di kawasan Penjaringan, berdiri sebuah masjid bersejarah yang menyimpan banyak kisah.
Masjid Jami Keramat Luar Batang, di dalamnya terdapat makam seorang ulama besar, Al-Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus.
Makam ini bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir seorang tokoh, melainkan simbol perjuangan, keajaiban, dan daya tarik spiritual yang hingga kini mengundang ribuan peziarah dari daerah.
Bagaimana kisah di balik makam keramat ini?
Berawal pada tahun 1736, seorang pemuda tampan dari Hadramaut, Yaman, mendarat di Pelabuhan Sunda Kelapa Batavia, yaitu Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus.
Pada kala itu Batavia menjadi pusat perdagangan sibuk di bawah kekuasaan VOC Belanda. Di usia yang masih muda, sekitar 20 tahun, beliau dengan semangat dakwahnya membangun sebuah surau sederhana pada tahun 1739 yang menjadi cikal bakal Masjid Jami Keramat Luar Batang.
Beliau selain sebagai pendakwah, beliau juga tokoh yang berani menentang penjajahan Belanda di kawasan Sunda Kelapa, hingga sempat dipenjara oleh VOC karena sikapnya yang tegas. Namun, keteguhan hatinya membuatnya disegani, bahkan oleh musuh-musuhnya.
Salah satu kisah menarik adalah ketika ia menyelamatkan seorang keturunan Tionghoa, Ne Bok Seng, dari kejaran VOC pada 1740.Pria ini kemudian memeluk Islam, berganti nama menjadi Abdul Kadir, dan menjadi murid setia Habib Husein hingga akhir hayatnya. Makam Abdul Kadir kini berdampingan dengan makam sang guru di dalam masjid.
Misteri Nama “Luar Batang” sendiri menyimpan cerita yang tak kalah menarik.
Ada dua versi yang menjelaskan asal-usul nama ini. Versi pertama berkaitan dengan peristiwa ajaib setelah wafatnya Habib Husein pada 24 Juni 1756 (17 Ramadhan 1169 H).Menurut tradisi, pemakaman orang asing di Batavia harus dimakamkan di Tanah Abang.
Namun, ketika kurung batang Habib Husein diusung ke sana, pemakamannya tiba-tiba menghilang.Kejadian ini berulang hingga tiga kali, dan setiap kali mau dibawa ke tempat pemakaman, jenazahnya kembali lagi ke tempat tinggalnya di Luar Batang.
Akhirnya, para pengikutnya memutuskan untuk memakamkannya di samping surau yang ia bangun, yang kemudian menjadi masjid.Peristiwa itu mengukuhkan “Habib Luar Batang”, yang berarti “jenazah yang keluar dari keranda”.Versi kedua menawarkan penjelasan yang lebih historis.
Pada masa VOC, otoritas Belanda memasang kayu besar di muara Sungai Ciliwung untuk mengawasi dan mengenakan pajak pada perahu yang masuk ke Pelabuhan Sunda Kelapa.
Perahu-perahu pribumi yang tidak diizinkan masuk harus menunggu di luar batang kayu ini, sehingga kawasan di sekitarnya disebut “Luar Batang” atau “Buiten de Boom” dalam bahasa Belanda.Kawasan ini berkembang menjadi pemukiman yang ramai, dan Habib Husein memilihnya sebagai basis dakwahnya.
Makam yang menjadi Wisata Religi.
Makam Habib Husein, yang kini berada di dalam Masjid Luar Batang setelah renovasi pada 1827, menjadi daya tarik utama bagi peziarah.

Konon, makam ini dianggap keramat karena karomah (keajaiban) yang dimiliki Habib Husein semasa hidupnya, seperti kisah ketika ia mengirimkan uang ke ibunya di Hadramaut dengan melemparkannya ke laut, dan uang itu benar-benar sampai.
Banyak peziarah yang datang untuk ngalap berkah, memohon keselamatan, kesehatan, atau keberkahan dalam kehidupan.
Tak hanya dari Jakarta, peziarah juga berdatangan dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari Malaysia, Singapura, hingga Timur Tengah.Selain makam, masjid ini juga memiliki sumur air suci yang diyakini memiliki khasiat penyembuhan.
Pengunjung sering membasuh wajah, tangan, atau kaki dengan air ini, bahkan membawanya pulang dalam botol untuk keperluan spiritual.
Keunikan arsitektur masjid, dengan 24 tiang pancang yang melambangkan 24 jam dalam sehari, serta langit-langit kayu jati yang masih asli, menambah pesona tempat ini sebagai cagar budaya yang dilindungi sejak 1993.

Kontroversi pada tahun 2016, kawasan Luar Batang sempat diwarnai wacana penggusuran oleh Pemprov DKI Jakarta, hingga terjadi korban.
Namun, rencana ini menuai penolakan keras, termasuk dari pengacara kondang Yusril Ihza Mahendra, yang menegaskan bahwa tanah di sekitar masjid adalah milik warga dan dilindungi undang-undang.
Kini, Masjid Luar Batang justru dijadikan destinasi wisata religi andalan Jakarta, dengan dukungan revitalisasi dari Gubernur Anies Baswedan.Tokoh-tokoh seperti Soeharto, Gus Dur, SBY, hingga Muhaimin Iskandar pernah berziarah ke sini, menunjukkan betapa pentingnya tempat ini dalam sejarah dan budaya Indonesia.
Hingga kini Masjid Jami Keramat Luar Batang menjadi warisan yang abadi bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga saksi bisu perkembangan Islam di Batavia.
Kisah Habib Husein dengan keberanian dan karomahnya dalam penyebarkan Islam, makam keramat bersama sumur sucinya, menjadi pengingat bahwa di tengah hiruk-pikuk modernitas di Jakarta, ada jejak sejarah dan spiritual yang patut diketahui.
Rasakan pengalaman spiritual di Masjid Luar Batang di Jalan Luar Batang V, Penjaringan, Jakarta Utara. Datanglah dengan hati terbuka, dan siapa tahu, Anda akan merasakan keajaiban yang telah memikat hati ribuan peziarah selama berabad-abad. [w4-1]
