[K.O.K] – Di tengah euforia program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diklaim bisa mendongkrak kecerdasan siswa, data terbaru dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) justru menampar wajah pendidikan nasional.
Rata-rata nilai matematika siswa SMA dalam Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 hanya berkisar 30-an dari skala 100, tak jauh beda dengan nilai bahasa Inggris.
Angka ini memicu pertanyaan serius, apakah MBG hanyalah gimmick politik tanpa dampak nyata?
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen, Rahmawati, membeberkan data ini dalam Taklimat Media TKA 2025 di Jakarta pada Senin (22 Desember 2025). “Rendahnya nilai kemungkinan karena soal lebih menekankan penalaran dan naratif,” ujarnya, seperti dilansir TEMPO.
Namun, penjelasan ini terasa lemah di mata kritik pendidikan. Bagaimana mungkin siswa yang sudah diberi asupan gizi gratis melalui MBG masih kesulitan? Rahmawati sendiri mengakui ini sebagai “refleksi” untuk perbaikan, mendesak guru membedah metode pengajaran dan berbagi praktik terbaik antar-sekolah.
Tapi, apakah cukup? Data per provinsi menunjukkan kegagalan sistemik, bukan sekadar soal ujian.
Padahal, Wakil Menteri Pendidikan, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie pernah berjanji besar. Saat mengunjungi stan Badan Gizi Nasional di Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025 di ITB pada Jumat (8 Agustus 2025), ia mengklaim MBG bisa tingkatkan kemampuan matematika dan bahasa Inggris melalui “belajar sambil makan”.
“Program ini memotivasi, mengasah daya ingat, dan dorong semangat belajar berdasarkan bukti ilmiah,” katanya dalam keterangan resmi. Klaim ini kini terdengar ironis, mengingat nilai TKA justru membuktikan sebaliknya. Apakah “bukti ilmiah” itu hanya teori kosong, atau implementasi MBG yang gagal?
Banyak Masyarakat yang menilai MBG kurang terintegrasi dengan kurikulum. “Gizi baik tak otomatis bikin pintar jika pengajaran masih konvensional,” kata seorang analis pendidikan independen.
Kemendikdasmen harus segera evaluasi, bukan sekadar refleksi. Jika tidak, generasi muda Indonesia akan terus tertinggal, sementara anggaran negara habis untuk program yang tak efektif.
Data ini dapat menjadi alarm, bahwa pendidikan kita butuh reformasi mendalam, bukan janji manis. Pemerintah wajib transparan soal dampak MBG, atau risiko kegagalan nasional semakin besar.
