[K.O.K] – Musim liburan sekolah akhir tahun 2025 hingga awal 2026 seharusnya menjadi pesta bagi industri pariwisata, tapi realitasnya pahit.
Taman Impian Jaya Ancol, ikon rekreasi Jakarta yang biasa ramai oleh keluarga dan wisatawan, kini merasakan getah dari ekonomi nasional yang masih goyah dan bencana alam dahsyat di Sumatera.
Meski manajemen Ancol mengklaim peningkatan kunjungan 12% dibanding tahun lalu, data resmi menunjukkan angka absolut yang mengecewakan, hanya 77.300 pengunjung pada 1 Januari 2026, jauh di bawah ekspektasi 120.000 untuk malam Tahun Baru, dengan total target 700.000 sepanjang periode 13 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026 yang berpotensi tak tercapai.
Ada bang Mail pengunjung dari Rawamangun yang memanfaatkan tidak ramainya pengunjung di waktu liburan dengan memancing di jembatan dermaga bersama keluarganya yang biasanya ada pelarangan oleh petugas.

Penurunan ini bukan kebetulan.
Ekonomi Indonesia memasuki 2026 dengan pertumbuhan diproyeksikan hanya 5-5,4%, dihantui inflasi pangan tinggi dan pelemahan rupiah hingga Rp16.750 per dolar AS. Masyarakat kelas menengah bawah, tulang punggung pengunjung Ancol, terpaksa memangkas anggaran liburan karena biaya hidup melonjak.
Pengamat ekonomi memperingatkan bahwa awal 2026 masih “berat” akibat perlambatan sektor industri dan ketergantungan pada komoditas yang fluktuatif.
Kritik pedas layak dilontarkan kepada pemerintah, mengapa stimulus ekonomi pasca-pandemi tak cukup kuat untuk stabilkan daya beli rakyat?
Lebih parah, bencana banjir dan longsor di Sumatera akhir 2025 yang menewaskan 1.177 jiwa, menghilangkan 148 orang, dan memaksa 242.200 warga mengungsi, menciptakan efek domino ke pariwisata nasional.
Meski Ancol berada di Jawa, psikologi masyarakat terganggu, perjalanan antar-pulau terhambat, dan citra Indonesia sebagai destinasi aman rusak. UKM pariwisata di Sumatera lumpuh, memicu migrasi tenaga kerja dan penurunan rantai pasok nasional.
Pakar UGM menyalahkan kerusakan ekosistem hutan sebagai akar masalah, tapi pemerintah lamban dalam restorasi, membiarkan bencana ekologis ini jadi “peringatan keras” yang diabaikan.
Di lapangan, cerita pilu datang dari pekerja informal.
Seorang tukang perahu di kawasan pantai Ancol mengungkapkan kekecewaannya, “Dulu saat ekonomi stabil, pendapatan saya bisa Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per hari di musim libur. Sekarang, Rp500 ribu sudah syukur. Pengunjung sepi, banyak yang batal datang karena khawatir bencana atau dompet tipis.” ujar kang Supandi.

Kisah ini mencerminkan kegagalan sistemik, pariwisata yang tak inklusif, di mana pekerja kecil jadi korban pertama ketidakstabilan.
Pemerintah harus bertindak cepat untuk dorong wisata hijau, stabilkan ekonomi melalui subsidi targeted, dan percepat pemulihan Sumatera.
Jika tidak, liburan sekolah mendatang bisa lebih muram, dan Ancol hanyalah contoh kecil dari industri yang terancam punah. [w4-1]
