[K.O.K] – Di tengah gelombang keprihatinan masyarakat atas maraknya kasus keracunan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyampaikan respons yang penuh empati dan komitmen.
Ini merupakan momen penting untuk membangun sistem yang lebih aman bagi anak-anak, tanpa harus menutup mata terhadap kekurangan yang ada.
Dadan menegaskan bahwa BGN telah bertindak cepat dengan menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terlibat dalam kasus keracunan.
“Kami mendengar tuntutan itu. Untuk SPPG bermasalah, kami setop sementara sambil dievaluasi,” ujarnya pada Jumat (19/9).
Langkah ini patut diapresiasi sebagai bentuk tanggung jawab awal, meski tentu saja kedepannya berharap evaluasi ini lebih mendalam untuk mencegah pengulangan.
Ia juga menjelaskan bahwa fokus evaluasi saat ini mencakup pertanggungjawaban anggaran dan operasional, dengan evaluasi penuh direncanakan pada 2026 setelah semua SPPG berdiri.
Tahun depan, sertifikasi akreditasi akan diterapkan untuk memastikan standar kualitas terpenuhi. Langkah ini dianggap positif, agar untuk mempercepat proses ini.
Dengan adanya temuan seperti menu basi, ulat pada makanan, hingga dapur penyedia yang disegel polisi, pemerintah perlu memprioritaskan transparansi dan pengawasan ketat sejak sekarang.
Sementara itu, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat setidaknya 5.360 anak mengalami keracunan hingga September 2025, angka yang mungkin lebih besar karena dugaan penutupan kasus oleh pihak terkait.
JPPI mendesak Presiden untuk hentikan sementara MBG dan lakukan evaluasi total terhadap tata kelola BGN.
Saran ini masuk akal sebagai upaya melindungi generasi muda, sambil memberikan ruang bagi pemerintah untuk memperbaiki.
Program MBG, yang bertujuan baik untuk tingkatkan gizi anak, seharusnya menjadi harapan bagi masa depan sehat Indonesia.
Semoga langkah BGN ini menjadi awal dari transformasi yang lebih baik.
sumber: CNN
