[K.O.K] – Hei, sobat K.O.K, di tengah harga rokok yang makin mahal dan orang-orang mulai mikir dua kali buat ngerokok, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) justru melaporkan penerimaan cukai yang ngegas.
Sampai Oktober 2025 ini, angkanya tembus Rp 163,3 triliun, naik 4,6% dibanding tahun lalu. Keren kan?
Tapi, selain besar pemasukkannya ada sisi gelapnya, produksi cukai hasil tembakau (CHT) malah turun 2,9%. Ini berita fresh dari konferensi pers APBN KiTa di Jakarta Pusat, langsung dari mulut Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Djaka Budhi Utama.
Djaka bilang, penurunan cukai rokok ini gak bisa dilepas dari produksi pabrik rokok yang juga anjlok, khususnya di golongan 1, yang biasanya masuk kategori rokok premium. “Cukai turun berkaitan dengan hasil produksi pabrik rokok terjadi penurunan sehingga tentunya akan berpengaruh juga terhadap penerimaan cukai. Terutama rokok cukai kelas 1 ini yang mengalami penurunan produksi dampaknya adalah penurunan cukai,” ujarnya santai tapi tegas di depan wartawan.
Tapi jangan khawatir, katanya penerimaan cukai secara keseluruhan gak sampe kontraksi. Malah tumbuh sekitar 7,1% tahun ini, berkat penindakan masif terhadap rokok ilegal. “Penindakan rokok ilegal yang masif dilakukan ini dapat menjaga penerimaan cukai,” tambahnya.
Nah, ini yang bikin penasaran. Di satu sisi, pemerintah bagus tegas lawan rokok illegal, bisa nambah duit negara dan kurangi barang haram yang bikin rugi semua pihak. Tapi, Apakah ini dapat menjadi solusi jangka panjang?
Penurunan produksi rokok legal bisa berdampak ke ribuan pekerja di industri tembakau, dari petani sampe buruh pabrik. Belum lagi, kalau orang beralih ke rokok murah atau ilegal, justru bisa nambah masalah kesehatan masyarakat.
Pemerintah perlu mikir strategi lebih holistik, seperti dukungan transisi buat petani tembakau atau kampanye anti-rokok yang lebih gencar. Kalau cuma andalin penindakan, bisa-bisa penerimaan negara fluktuatif dan industri lokal kena imbasnya.
Jadi pemerintah tidak hanya memikirkan chase target penerimaan saja, tapi jaga keseimbangan sosial dan kesehatan.
Gimana menurut kalian? Share di komentar ya!
