[K.O.K] – Trend video pendek penyuluhan dari departemen pemerintah Indonesia semakin populer, dengan Kementerian Agama melalui Kantor Urusan Agama (KUA) mempelopori “Tepuk Sakinah” untuk bimbingan perkawinan, diikuti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dengan “Tepuk Gempa” untuk edukasi keselamatan bencana.
Ini bagian dari strategi komunikasi digital pemerintah untuk himbauan masyarakat, menggunakan format tepuk tangan seperti lagu anak-anak yang mudah diingat dan viral di media sosial.
“Tepuk Sakinah” diluncurkan September 2025 untuk promosi rumah tangga harmonis, sementara “Tepuk Gempa” baru diunggah 11 Oktober 2025 untuk ajarkan langkah “Duduk, Tutup, Pegang” saat gempa.
Trend ini dimulai dari inisiatif Kemenag untuk membuat penyuluhan lebih engaging. “Tepuk Sakinah” dibuat oleh KUA untuk calon pengantin, mengajarkan nilai sakinah, mawaddah, rahmah dengan tepuk tangan ritmis, viewed jutaan kali di Instagram dan TikTok.
BMKG ikut serta dengan “Tepuk Gempa”, diunggah di akun resmi @infobmkg, untuk edukasi anak-anak tentang protokol gempa, lengkap dengan gerakan sederhana dan lagu pendek. Ini respons atas seringnya gempa di Indonesia, dengan BMKG catat 8.000+ gempa tahun 2025.
Departemen lain seperti Kementerian Kesehatan atau Lingkungan Hidup mulai ikut, meski belum resmi, misalnya spekulasi “Tepuk Sehat” atau “Tepuk Lingkungan”.
Penelitian dari Kemenkominfo 2025 menunjukkan video pendek seperti ini dapat meniingkatkan engagement 40% dibanding poster tradisional, karena format TikTok-style mudah dibagikan.
Namun, survei Kominfo juga catat 60% audiens muda (15-25 tahun) lebih ingat lagu daripada pesan inti, menandakan potensi superficial.
Langkah ini patut diapresiasi sebagai terobosan kreatif pemerintah untuk adaptasi digital.
Di tengah banjir informasi 2025, format tepuk tangan membuat penyuluhan fun dan relatable, seperti “Tepuk Sakinah” yang bantu kurangi angka perceraian dengan edukasi dini atau “Tepuk Gempa” yang bisa selamatkan nyawa di negara dengan 500+ gempa destruktif tahunan (data BMKG).
Ini selaras dengan SDG ( Sustainable Development Goal ) 4 atau istilahnya Pendidikan Berkualitas dan SDG 11 (kota berkelanjutan), dengan potensi viral seperti “Tepuk Sakinah” yang capai 5 juta views dalam sebulan.
Meski inovatif, format ini bisa terlihat terlalu childish untuk topik serius seperti “Tepuk Gempa” yang tentang bencana alam, berisiko mengurangi keseriusan dari pesan penyuluhan. Selain itu, tanpa follow-up seperti simulasi atau kampanye berkelanjutan.
“Lucu tapi Ngeri, Gempa bukan Mainan”
SIMAK VIDEO INI
