[K.O.K] – Berawal gejolak konflik global yang tak kunjung reda, kisah Perang Mu’tah tahun 629 Masehi muncul sebagai pengingat tajam tentang bagaimana minoritas yang gigih bisa menahan gelombang imperialisme.
Perang ini, yang terjadi di desa Mu’tah dekat Karak, Yordania modern, bukan sekadar catatan sejarah Islam, tapi kritik hidup terhadap ketidakadilan kekuatan besar yang sering menginjak hak kecil.
Dipicu pembunuhan utusan Nabi Muhammad SAW, Al-Harith bin Umair al-Azdi, oleh pasukan Bizantium, Rasulullah mengirim 3.000 prajurit Muslim ke wilayah Syam.
Mereka menghadapi koalisi mengerikan, 200.000 tentara Romawi Timur dan sekutu Arab Ghassan. Rasio 1:67 ini bukan pertarungan adil, ini adalah ujian eksistensial.
Nabi menetapkan tiga panglima berurutan, Zaid bin Haritsah memimpin awal, diikuti Ja’far bin Abi Thalib (sepupu Rasulullah yang heroik), lalu Abdullah bin Rawahah. Ketiganya gugur dalam pertempuran sengit, meninggalkan pasukan dalam kekacauan.
Di sinilah Khalid bin Walid, sang ahli strategi, muncul. Dengan taktik gerilya cerdik, ia memimpin mundur taktis, menyelamatkan hampir seluruh pasukan tanpa kehancuran total.
Secara jumlah pasukan, Muslim tak menang. Tapi, ini kemenangan moral, menghadapi mesin perang Bizantium yang superior, mereka tak gentar.
Perang ini menyoroti bagaimana kekaisaran sering mengabaikan etika, membunuh utusan damai demi ekspansi.
Di era sekarang, ketika konflik seperti di Timur Tengah merefleksikan pola serupa, Mu’tah mengajak kita mempertanyakan, Apakah kekuatan besar hari ini belajar dari sejarah, atau hanya mengulang tirani?
Peristiwa ini terjadi pada Jumadil Awal 8 Hijriah, sejarahnya tetap masih relevan hingga kini. Ia bukan glorifikasi kekerasan, tapi peringatan bagimana ketangguhan ide bisa kalahkan jumlah.
Sumber sejarah seperti Sirah Nabawiyah mengonfirmasi fakta ini, meski angka pasukan lawan masih khilaf bervariasi antara 100.000-200.000 pasukan.
