[K.O.K] – Selasa, 17 September 2025, Hotel Grand Tjokro di Grogol menjadi saksi kehangatan sebuah pertemuan yang tak biasa.
Pada kesempatan istimewa ini, bertajuk “Literasi Keuangan Haji”, lebih kurang ada 200 orang yang hadir dari beberapa Kelurahan.
Kelurahan Sukabumi Utara yang diwakilkan RW 007 Hafiz beserta jajarannya, bersatu dalam semangat mendapatkan edukasi prihal menjadi calon jama’ah haji ataupun umroh.

Acara yang digagas Bank Muamalat ini bukan sekadar ceramah, melainkan panggilan lembut untuk menyempurnakan rukun Islam kelima, pergi haji bagi yang mampu.
Sungguh menyentuh, melihat bagaimana mimpi tanah suci kini terasa begitu dekat, meski tantangan literasi keuangan masih sering menjadi penghalang.
Erwin Aksa, anggota DPR RI Fraksi Golkar dari Dapil 3 dan Komisi VIII, membuka acara dengan pidato yang penuh inspirasi.
Sebagai pengawal undang-undang terkait haji dan umroh, beliau menekankan komitmennya untuk terus mengawasi dan merancang regulasi yang lebih inklusif.
“Haji bukan hanya soal biaya, tapi juga kesiapan hati dan jiwa,” ujarnya dengan senyum hangat, mengingatkan bahwa kemampuan finansial bisa dibangun langkah demi langkah.
Misi beliau tak berhenti di situ, Erwin berjanji mendorong peluang kerja melalui pelatihan skill, seperti dibidang tata boga dalam pembuatan roti atau keterampilan lain yang bisa menambah penghasilan.
Bayangkan, calon jamaah yang tak hanya siap beribadah, tapi juga mandiri secara ekonomi.
Sebuah pendekatan yang patut diapresiasi, meski kita harap implementasinya dapat semakin cepat.

Tak kalah menyentuh, Ahmad Zaki, Sekretaris Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Indonesia, memaparkan sejarah perjalanan ibadah haji dengan narasi yang mengalir seperti kisah lama yang hidup kembali.
Sebagai instansi independen, BPKH tak hanya mengelola dana triliunan rupiah, tapi juga membangun kesadaran bahwa keinginan harus diimbangi tindakan nyata.
“Mulailah dengan langkah sederhana, buka akun rekening di Bank Muamalat,” sarannya, sambil menawarkan trik mudah seperti tabungan haji berbasis syariah yang fleksibel.


Ini adalah pengingat lembut bahwa haji bukan hak istimewa segelintir orang kaya, tapi panggilan universal. Sering kita temui alasan “belum mampu”, padahal solusi sudah ada di depan mata.
Bank Muamalat, dengan produk-produknya yang ramah jama’ah, membuktikan bahwa perbankan syariah bisa jadi sahabat setia.
Semoga momentum seperti ini merebak ke seluruh negeri, agar lebih banyak lagi yang bisa berseru, “Labbailahai ta’alaa” dengan hati tenang.
Karena pada akhirnya, haji adalah tentang ibadah berbagi kebaikan dan kebaikan itu terasa begitu nyata. [W4-1]
