[K.O.K] – Siapa sih yang nggak suka rasa manis dari gula? Di tengah tren kesehatan global yang semakin menyoroti gula sebagai musuh utama, gula rafinasi tetap menjadi topik panas. Hampir semua orang doyan, tapi kalau gula rafinasi yang lagi kita bahas, ini bisa jadi musuh dalam selimut. Gula rafinasi itu gula putih olahan yang diproses super ketat dari tebu atau bit, hilang semua nutrisi alaminya, tinggal sukrosa murni yang bikin ketagihan.
Dari data Kemenkes tahun 2025, konsumsi berlebih bisa naikkan risiko diabetes tipe 2 sampe 30%, obesitas, tekanan darah tinggi, dan bahkan kanker. Anne, VP Kesehatan Masyarakat, bilang, “Gula ini seperti bom waktu di tubuh kita.”
Proses rafinasi ini melibatkan pemurnian kimiawi untuk menghasilkan kristal putih halus, yang sering digunakan dalam industri makanan dan minuman kemasan. Berbeda dengan gula alami seperti yang ada di buah atau madu, gula rafinasi tidak memberikan manfaat nutrisi apa pun, justru menjadi “kalori kosong” yang memicu berbagai masalah kesehatan.
Menurut data Kementerian Kesehatan Indonesia tahun 2025, konsumsi gula rafinasi harian rata-rata melebihi batas WHO (50 gram/hari), mencapai 70 gram per orang, yang berkontribusi pada peningkatan kasus diabetes tipe 2 hingga 25% dibandingkan 2024.
Pemerintah Indonesia telah melarang penjualan gula rafinasi langsung ke konsumen sejak 2024, membatasinya hanya untuk industri, tapi penetrasi di produk olahan masih tinggi. Anne Purba, pakar nutrisi dari HelloSehat, menjelaskan, “Gula rafinasi memicu lonjakan gula darah cepat, menyebabkan resistensi insulin dan peradangan kronis.”
Manfaat Diklaim dan Realitas
Secara teknis, gula rafinasi memberikan energi cepat dan rasa manis yang stabil untuk makanan olahan, membuatnya populer di industri. Namun, manfaat ini semu belaka karena hilangnya nutrisi seperti vitamin dan mineral yang ada di gula mentah.
Studi dari Universitas Ciputra menunjukkan bahwa gula rafinasi tidak memberikan nilai tambah selain kalori, malah memperburuk keseimbangan gizi.
Bahaya Gula Rafinasi bagi Kesehatan
Konsumsi berlebih gula rafinasi terkait dengan berbagai penyakit kronis. Dr. R. Cahyono dari TikTok LadangLima menjelaskan bahwa proses kimiawi menyebabkan oksidasi, memicu radikal bebas yang merusak sel. Bahaya utama meliputi:
- Obesitas. Meningkatkan nafsu makan karena ganggu hormon leptin.
- Diabetes Tipe 2. Lonjakan insulin kronis menyebabkan resistensi.
- Penyakit Jantung. Naikkan trigliserida dan tekanan darah.
- Kerusakan Gigi dan Jerawat. Bakteri mulut berkembang biak, sebabkan karies dan inflamasi kulit.
- Risiko Kanker. Peradangan kronis tingkatkan mutasi sel.
- Malnutrisi. Ganti makanan bergizi dengan kalori kosong. Efek samping jangka pendek termasuk kelelahan pasca-lonjakan energi, sementara jangka panjang bisa fatal seperti gagal hati atau ginjal.
Efek samping jangka pendek termasuk kelelahan pasca-lonjakan energi, sementara jangka panjang bisa fatal seperti gagal hati atau ginjal.
Meskipun bahayanya jelas, dan sudah dilarang untuk di konsumsi, tetapi gula rafinasi masih mendominasi 80% produk kemasan, menyebabkan epidemi obesitas di kalangan anak muda.
SIMAK VIDEO DIBAWAH INI
