[K.O.K] – Jakarta, 1 Januari 2026 – Saat jarum jam menunjukkan pergantian tahun, halaman Balai Walikota Jakarta Barat tak bergemerlap pesta mewah.
Sebaliknya, acara bertajuk “Jakarta Global City: Dari Jakarta untuk Indonesia, Rangkul Keragaman, Rawat Harapan” yang diselenggarakan Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menjadi cermin renungan bagi kita sebagai umat Islam.
Mengapa boroskan anggaran untuk ledakan kembang api, sementara saudara di Kepulauan Sumatera masih terluka oleh banjir dan longsor akhir 2025?
Edaran pemerintah yang melarang perayaan besar-besaran dan petasan dari Kapolri hingga Pemprov DKI—seharusnya jadi pelajaran tajam, keberkahan bukan dari pesta sia-sia, tapi dari empati dan pahala berbagi.
Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainnah, menegaskan acara ini sebagai momentum refleksi sederhana, mengedepankan solidaritas dan kebersamaan. “Sebagai simbol persatuan dan toleransi, rangkaian acara diawali doa bersama lintas agama, mencerminkan Jakarta sebagai kota global yang menjunjung keberagaman,” katanya di Jakarta, Selasa lalu.
Acara dimeriahkan konser mini kreativitas generasi muda, band pelajar SMA/SMK, tarian tradisional dan modern dari SMP, hingga musik ambience menjelang hitung mundur.
Kepala Suku Dinas, Dedi Sumardi menambahkan, ini tunjukkan citra positif pelajar, jauh dari bully dan tawuran. Tak ketinggalan, penampilan Gambang Kromong dari Sanggar Seni Betawi “Kota Bambu” merupakan grup pelestari budaya sejak 2002, bersama Hany Pattikawa, Risma Kharisma, Orkes Biang Kerok, dan Elang Band, menghangatkan suasana tanpa boros.
Pengunjung juga nikmati bazar UMKM dengan menghadirkan kuliner dan kerajinan tangan, wadah ekspresi positif.
Banyak warga pilih tasyakuran Islami, berkumpul keluarga, panggang ikan atau ayam sambil berdoa. Di tengah doa untuk Sumatera, Jakarta tegaskan peran sebagai Global City, bukan pusat kemewahan, tapi ruang empati dan harapan.
Kritik layak dilontarkan, di saat bencana Sumatera merenggut ribuan jiwa, pemerintah harus lebih cepat tanggulangi, bukan lamban seperti keluhan rakyat.
Harapan 2026? Bangsa Indonesia bangkit dari “sakit” pandemi, krisis, dan musibah alam, dengan aksi nyata bukan janji kosong.
Semoga 2026 bawa kebangkitan, bukan sekadar kalender baru, mencari pahala dari keikhlasan, bukan dari api yang padam sekejap. [w4-1]
