[K.O.K] – Di tengah gempuran mata uang digital dan inflasi yang merajalela, orang Indonesia masih santai menyebut uang sebagai “duit”.
Tapi tahukah Anda, kata ini bukan sekadar slang kekinian, melainkan residu kolonialisme Belanda yang bertahan lebih dari 78 tahun pasca-kemerdekaan?
Sebuah reel viral di Instagram dari akun Beragam Fakta Dunia mengingatkan kita “Duit” berasal dari koin tembaga kecil era Hindia Belanda, dicetak oleh VOC sejak abad ke-17.
Pasca-1945, koin itu lenyap bersama penjajah, tapi istilahnya? Masih hidup subur, berevolusi jadi bahasa gaul untuk segala bentuk uang, dari rupiah hingga kripto.
Ini merupakan bukti betapa kolonialisme tak hanya merampas tanah, tapi juga bahasa kita. Mengapa kita tak lebih giat mengganti dengan istilah asli seperti “wang” dari Jawa atau “uang” yang berakar Sanskrit?
Etimologi lebih dalam ungkap “duit” dari Norse Kuno “thveit” artinya “kepingan kecil”, tapi di Indonesia, ia jadi simbol ketergantungan budaya.
Reel tersebut, dengan visual koin antik dan narasi ringan, sukses viral karena menyentuh nostalgia Sejarah, tapi apakah cukup untuk membangunkan kesadaran?
Saatnya kita renungkan, Apakah kata “duit” masih relevan, atau justru penghalang identitas nasional?
SIMAK VIDEO INI
