[K.O.K] – Di tengah hiruk-pikuk Pasar Kaget Jl. Ayub, Sukabumi Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, aroma makanan mentah dan tawar-menawar biasanya memenuhi udara.
Namun, kini suasana terasa lain. Pedagang dan pembeli di pasar tradisional ini mengeluhkan penurunan drastis dalam transaksi jual-beli.
Istilah “Rojali” (Rombongan Jarang Beli) dan “Rohana” (Rombongan Hanya Nanya) kini menjadi cerminan pahit kondisi ekonomi rakyat Indonesia, khususnya di kalangan masyarakat tingkat bawah.

Survei di Pasar Kaget mengungkap realitas yang memilukan. “Sekarang sepi, orang cuma lihat-lihat, tanya harga, tapi pulang tanpa beli,” ujar Bapak Johanes pedagang sayur berusia 56 tahun, dengan gaya candanya. Ia menambahkan, omzetnya turun hingga 60% dibandingkan satu tahun lalu.
Di sisi lain, Ibu Parmiati, pembeli setia pasar ini, mengaku hanya mampu membeli kebutuhan pokok. “Harga naik, penjualan makanan olahan saya ya segini-gini aja. Mau dibilang apa lagi?” keluhnya.

Fenomena Rojali dan Rohana bukan sekadar candaan media sosial, melainkan jeritan rakyat yang terhimpit ekonomi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal I 2025 hanya 4,8%, lebih rendah dari sebelum pandemi (5,2–5,4%).
Ini mengindikasikan daya beli masyarakat yang terus melemah, diperparah oleh kenaikan harga barang dan stagnasi pendapatan.
Keresahan ini tak hanya terasa di pasar, tetapi juga menggema di jalanan. Kemarin, aliansi masyarakat turun ke jalan dalam aksi demo menuntut pemerintah lebih bijak dalam membuat kebijakan pro-rakyat.
Mereka kecewa dengan janji-janji manis pejabat dan anggota dewan yang seringkali tak sejalan dengan realitas. Ada pernyataannya yang dianggap meremehkan penderitaan rakyat yang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengakui fenomena Rojali dan Rohana sebagai “cambuk keras” bagi pemerintah untuk tidak terlena dengan angka pertumbuhan ekonomi 5,12% yang terlihat impresif di atas kertas.
“Ini pengingat bahwa masih banyak PR untuk kesejahteraan rakyat,” ujarnya. Namun, rakyat menanti aksi nyata, bukan sekadar pengakuan.
Pemerintah perlu segera bertindak, mulai dari insentif untuk meningkatkan daya beli hingga kebijakan yang mendukung UMKM di pasar seperti Pasar Kaget.


Rakyat tak butuh retorika, melainkan solusi yang terasa di dompet mereka. Seperti kata Ibu Parmiati, “Kami cuma ingin hidup layak, tak lebih.” [w4-1]
