[K.O.K] – Di tengah liburan di kawasan wisata Puncak, Cibodas, dan Cipanas yang semakin komersial, Kang Dadang muncul sebagai pahlawan lokal dengan peuyeum atau tape singkong khas Sunda miliknya.
Pedagang berusia 40 tahun ini tak sekadar menjajakan camilan fermentasi manis legit itu, ia juga blak-blakan mengungkap proses pembuatannya, menantang praktik harga selangit di toko-toko oleh-oleh wisata yang sering memanfaatkan turis.
“Kenapa harus bayar mahal? Saya jual langsung dari tangan pembuat, lebih segar dan asli,” ujar Kang Dadang saat ditemui di penginapan pagi hari.
Setiap hari, Kang Dadang berkeliling naik sepeda motor ke villa-villa mewah dan pemukiman warga setempat, menawarkan peuyeum seharga Rp10.000 per bungkus, jauh di bawah ± Rp20.000 yang dipatok gerai wisata.
Strategi ini bukan hanya bisnis, ia mengkritik tersirat terhadap industri pariwisata yang sering mengabaikan produsen kecil.
“Wisatawan datang ke Sunda untuk rasa autentik, bukan tempat atau kemasan yang bagus,” tegasnya. Peuyeum miliknya dibuat dari singkong kuning (varietas mentega), yang memberi warna cerah dan tekstur lembut, berbeda dari singkong putih biasa yang kurang legit.
Proses pembuatan peuyeum, menurut Kang Dadang, sederhana tapi butuh ketelitian untuk hasil optimal.
Diawali dengan mengupas singkong kuning segar, kerik permukaannya hingga bersih, lalu cuci dan potong sesuai selera. Kukus selama 15-20 menit hingga matang tapi tidak lembek, lalu dinginkan di suhu ruang.
Taburi ragi tape dari Surakarta yang dihaluskan secara merata, bungkus dengan daun pisang, dan fermentasi selama 2-3 hari di tempat hangat, sering digantung ala tradisi Sunda agar lebih kering dan padat.

“Ragi harus berkualitas, kalau tidak, bisa gagal dan asam berlebih,” tambahnya, mengingatkan risiko fermentasi yang salah bisa menghasilkan produk beracun jika tak higienis.
Di era inflasi makanan tradisional, inisiatif Kang Dadang ini patut diapresiasi.
Namun, tantangannya besar, kompetisi dengan brand besar dan minim dukungan pemerintah untuk pedagang keliling.
Apakah Peuyeum Sunda akan tetap jadi ikon murah meriah, atau tergilas kapitalisme wisata?
Waktu akan menjawab, tapi bagi warga Puncak, Kang Dadang sudah jadi pilihan utama. [w4-1]
