[K.O.K] – Di tengah kehidupan kampus yang semakin individualis, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) cabang Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) menggelar forum diskusi aktif yang menyegarkan.
Acara yang berlangsung 10 Januari 12026, menjadi panggung bagi mahasiswa dari berbagai jurusan dan semester untuk mendalami topik krusial seperti Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), Sejarah Indonesia, Perkenalan Organisasi PMII, Nilai Pergerakan PMII, serta Penyetaraan Gender.
Namun, di balik agenda mulia ini, kita patut merenung, apakah generasi muda saat ini cukup berani menghadapi tantangan intelektual, atau masih terjebak dalam zona nyaman media sosial?
Ketua PMII UNUSIA, Dial Ulhaq, membuka forum dengan presentasi yang menggugah. Ia memberikan arahan tajam kepada peserta agar mengasah pemikiran sebagai mahasiswa generasi cemerlang dan kritis.

“Ini bukan sekadar diskusi, tapi ujian keberanian,” ujar Dial, sambil mendorong peserta merangkum poin-poin materi melalui kelompok kecil.
Setiap kelompok kemudian diminta mengirim perwakilan untuk presentasi di depan publik, sebuah metode yang efektif menguji nyali dan kemampuan artikulasi.
Peserta yang hadir beragam, mencakup mahasiswa lintas angkatan dari jurusan seperti hukum, ekonomi, hingga pendidikan. Selain mengolah pola pikir cerdas, forum ini juga merajut silaturahmi antar jurusan, membangun jaringan yang sering terabaikan di era digital.
Topik penyetaraan gender, misalnya, menjadi sorotan kritis, bagaimana PMII bisa menjadi garda depan dalam melawan ketidakadilan struktural, sementara masyarakat Indonesia masih bergulat dengan stereotip patriarkal?
Apakah cukup satu forum untuk membangun generasi yang tak hanya pintar, tapi juga berani bersuara?
PMII UNUSIA telah memulai langkah, tapi tantangan sebenarnya ada pada konsistensi dan inklusivitas lebih luas.
Acara ini mengingatkan, pendidikan bukan hanya gelar, tapi transformasi diri untuk negeri yang lebih baik.
