[K.O.K ]- Sebuah makam tua dengan bentuk tak lazim berdiri tepat di tengah Jalan Ragasemangsang, Kelurahan Sokanegara, Purwokerto Timur, Banyumas.
Keberadaannya yang berada di titik pertigaan jalan kerap menyita perhatian warga dan pengguna jalan. Dari pantauan di lokasi, makam tersebut tertutup pintu jeruji besi berwarna hitam tanpa gembok. Masyarakat dapat keluar-masuk dengan bebas.
Di dalamnya terlihat beberapa botol air mineral, kendi berisi abu dupa, serta sisa sesajen yang mengindikasikan aktivitas ziarah masih berlangsung hingga kini.
Bangunan makam dikelilingi tembok berukuran sekitar 3 x 1,5 meter yang tampak berlumut.

Bentuknya tidak menyerupai makam pada umumnya, melainkan seperti rumah kecil dengan lorong sempit di dalamnya. Desain pintu jeruji besi bahkan mengingatkan pada bangunan penjara era kolonial.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinporabudpar Banyumas, Fendy Rudianto, menjelaskan bahwa hingga saat ini tidak terdapat catatan resmi mengenai siapa sosok yang dimakamkan di lokasi tersebut.
Namun, masyarakat setempat meyakini makam itu adalah makam Mbah Ragasemangsang, tokoh yang namanya kini diabadikan sebagai nama jalan.
“Cerita yang berkembang di masyarakat ada dua versi,” kata Fendy.
Versi pertama menyebutkan Mbah Ragasemangsang sebagai tokoh sakti yang memiliki ilmu kebal bernama Aji Pancasona. Konon, ia tidak bisa meninggal dunia selama tubuhnya menyentuh tanah.
Karena itu, jasadnya harus digantung agar tidak hidup kembali. Dari sinilah nama Raga (tubuh) dan Semangsang (tersangkut) muncul.
Versi kedua mengaitkan makam tersebut dengan seorang pejuang kemerdekaan yang gugur dan ditemukan dalam kondisi tergantung di pohon beringin di sekitar Alun-alun Purwokerto.
Jenazahnya kemudian dimakamkan di lokasi yang kini dikenal sebagai Makam Ragasemangsang.
Meski sarat cerita mistis dan legenda, Fendy menegaskan bahwa makam tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Penetapan ini didasarkan pada usia bangunan yang telah melampaui 50 tahun serta memiliki nilai sejarah dan budaya.
“Diperkirakan usia makamnya sudah lebih dari 100 tahun dan berasal dari era kolonial Belanda. Bentuk bangunannya tertutup dan menyerupai penjara, khas arsitektur masa itu,” jelasnya.
Hingga kini, makam Ragasemangsang masih dianggap keramat oleh sebagian masyarakat. Tak sedikit peziarah, baik dari Banyumas maupun luar daerah, yang datang membawa dupa dan sesajen, menjaga tradisi yang terus hidup di tengah modernisasi kota.
