[K.O.K] – Pada Kamis, 9 Oktober 2025, kegiatan rutin Posyandu “Teratai RW007” kembali digelar di Pos RW007, dimulai pukul 09.00 WIB hingga selesai. Acara ini mendapat dukungan semangat dari Kesiekesra, Herlina beserta staff kelurahan lainnya, yang hadir untuk memastikan kelancaran pelayanan kesehatan masyarakat.
Warga RW007 menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti anjuran kontrol kesehatan, khususnya pemantauan tumbuh kembang anak, dengan harapan mencetak generasi yang sehat dan berkualitas.

Kegiatan ini mencakup pemeriksaan berat badan, tinggi badan, imunisasi dasar, penyuluhan gizi, dan konsultasi kesehatan ibu-anak, sesuai dengan program Posyandu siklus hidup yang dicanangkan Kementerian Kesehatan. Ibu RW007, Lutfa, menyampaikan apresiasinya atas kolaborasi yang terjalin, “Kegiatan ini didukung banyak pihak, baik dari kelurahan, kader-kadernya, serta masyarakatnya. Semua saling bantu biar anak-anak tumbuh optimal.”
Manfaat Posyandu bagi Masyarakat
Posyandu, atau Pos Pelayanan Terpadu, merupakan program unggulan pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak sejak 1984. Manfaat utamanya meliputi pencegahan stunting melalui pemantauan gizi, imunisasi lengkap untuk mencegah penyakit seperti campak dan polio, serta edukasi kesehatan yang mendorong pola hidup sehat.





Di tingkat nasional, Posyandu telah berkembang menjadi layanan siklus hidup, mencakup bayi hingga lansia, dengan fokus pemberdayaan masyarakat untuk penurunan angka kematian ibu dan anak.
Statistik Kemenkes menunjukkan bahwa pada 2025, program ini menargetkan 60 juta penerima manfaat melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG), dengan cakupan hampir 30 juta hingga September.
Di Jakarta Barat, kegiatan rutin seperti di RW007 membantu mengurangi prevalensi stunting, yang secara nasional turun menjadi 21,5% pada anak di bawah 5 tahun berdasarkan survei SSGI 2024.
Secara historis, Posyandu dimulai sebagai respons terhadap tingginya angka kematian ibu dan anak pada 1980-an, dan telah berevolusi menjadi model pemberdayaan masyarakat. Penelitian dari Kemenkes menunjukkan efektivitasnya dalam menurunkan stunting dari 37% pada 2013 menjadi 21% pada 2024, dengan target 14% pada 2025. [w4-1]
