[KOK] – Bayangkan, seorang bocah tiga tahun, Raya, dari Kampung Padangenyang, Desa Cianaga, Kabandungan, Sukabumi, Jawa Barat meregang nyawa dalam kondisi mengenaskan.
Tubuhnya terisi cacing, bahkan sampai ke otak! Kasus langka ini bukan hanya soal penyakit, tapi menggambarkan keras atas kegagalan sistem kesehatan dan sanitasi di negeri ini.
Raya, anak dari keluarga miskin, hidup di lingkungan kotor. Pemerintah desa, posyandu, hingga dinas kesehatan, menerapkan cambukan keras untuk mengingatkan kasus yang terjadi.
Anak yang berstatus gizi buruk (stunting), apa yang bisa dilakukan? Hanya bantuan makanan tambahan dan obat cacing rutin yang ternyata tidak cukup menyelamatkan nyawanya.
Sementara itu, di Jakarta, para anggota DPR tengah asyik menikmati kenaikan tunjangan rumah Rp50 juta per bulan dan ini, kata pimpinan DPR, “masih masuk akal.”
Masuk akal? Untuk apa? Untuk rumah mewah atau vila liburan? Rakyat seperti Raya mati dalam kemiskinan dan sistem ketidakadilan, tapi wakil rakyat malah sibuk menjaga kenyamanan pribadi.
Dana desa yang ada menjadi barometer kelalaian aparat desa, tapi apa kabar kelalaian DPR yang terus mengesahkan anggaran untuk kesejahteraan diri sendiri?
Tragedi Raya bukan cuma soal cacing. Ini soal ketidakadilan, anak-anak miskin mati yang seharusnya mendapat perhatian pemerintah pusat maupun daerah, sementara elite politik berenang di lautan hak istimewa.
Pemerintah pusat dan daerah harus berhenti saling tuding dan segera memperbaiki sistem kesehatan, sanitasi, dan perlindungan anak.
Kalau tidak, berapa Raya lain yang harus jadi korban? DPR, coba turun ke desa, lihat kondisi lingkungan rumahnya, dan tanya lagi, layakkah dan masuk akal nggak izin kalian itu?
sumber foto : instagram
